PELAYANAN BEDAH DAN ANESTESI

PELAYANAN BEDAH DAN ANESTESI

STANDAR, MAKSUD DAN TUJUAN, ELEMEN PENILAIAN

ORGANISASI DAN MANAJEMEN

Standar PAB.1.

Tersedia pelayanan anestesi (termasuk sedasi moderat dan dalam) untuk memenuhi kebutuhan pasien, dan semua pelayanan tersebut memenuhi standar di rumah sakit, standar nasional, undang-undang dan peraturan serta standar profesional.

Maksud dan tujuan PAB.1

Rumah sakit mempunyai sistem untuk menyediakan pelayanan anestesi (termasuk sedasi moderat dan dalam) yang dibutuhkan pasien, yang dibutuhkan dalam pelayanan klinis yang ditawarkan dan kebutuhan para praktisi pelayanan kesehatan. Pelayanan anestesi (termasuk sedasi yang moderat dan dalam) memenuhi standar di rumah sakit, nasional, juga undang-undang dan peraturan yang berlaku.

Pelayanan anestesi, termasuk sedasi moderat dan dalam serta pelayanan untuk kedaruratan, dapat diberikan di dalam rumah sakit, atau dengan kerjasama/persetujuan dengan organisasi lain, atau keduanya. Pelayanan anestesi (termasuk sedasi moderat dan dalam) juga tersedia di luar jam kerja untuk keperluan kedaruratan.

Setiap penggunaan anestesia dari sumber luar didasarkan atas rekomendasi direktur dan orang lain yang bertanggung jawab terhadap pelayanan anestesi. Sumber luar memenuhi undang-undang dan peraturan yang berlaku serta dengan mutu yang dapat diterima maupun keselamatan pasien yang memadai.

Elemen Penilaian PAB.1

TELUSUR

SKOR

DOKUMEN

SASARAN

MATERI

1.    Pelayanan anestesi (termasuk sedasi moderat dan dalam) memenuhi standar di rumah sakit, nasional, undang-undang dan peraturan yang berlaku

  Pimpinan RS

  PPK (Pemberi Pelayanan Kesehatan) yang memberikan pelayanan anestesi, sedasi-moderat, sedasi-dalam

  Tim Anestesi dari luar

  Pasien

 

Regulasi tentang pelayanan anestesi yang sesuai dengan peraturan yang berlaku

0

5

10

Regulasi tentang pelayanan anestesi di RS

 

Dokumen :

  • Daftar pelayanan anestesi, sedasi moderat/dalam
  • Daftar sumber anestesi dari luar RS berdasarkan rekomendasi direktur/PJ Pelayanan Anestesi

2.    Pelayanan anestesi yang adekuat, reguler dan nyaman (termasuk sedasi moderat dan dalam), tersedia untuk memenuhi kebutuhan pasien

Implementasi dari regulasi tersebut

0

5

10

3.    Pelayanan anestesi (termasuk sedasi moderat dan dalam) tersedia untuk keadaan darurat di luar jam kerja

Implementasi pelayanan anestesi utk emergensi di luar jam kerja

0

5

10

4.    Sumber dari luar rumah sakit diseleksi berdasarkan rekomendasi direktur, suatu rekor/catatan kinerja yang akseptabel, serta dapat memenuhi undang-undang serta peraturan yang berlaku.

Implementasi penyeleksian sumber dari luar RS berdasarkan rekomendasi direktur

0

5

10

Standar PAB.2.

Seorang individu yang kompeten (qualified) bertanggung jawab untuk pengelolaan pelayanan anestesi (termasuk sedasi moderat dan dalam)

Maksud dan tujuan PAB.2

Pelayanan anestesi (termasuk sedasi moderat dan dalam) dibawah kepemimpinan satu orang atau lebih yang kompeten, melalui pelatihan bersertifikat, keahlian dan pengalaman, konsisten dengan undang-undang dan peraturan yang berlaku. Orang ini memiliki tanggungjawab profesional untuk pelayanan anestesi tersebut. Tanggung jawab meliputi :

-       Pengembangan, implementasi dan memelihara/menegakkan (maintaining) kebijakan dan prosedur

-       Pengawasan administratif

-       Memelihara/mempertahankan program pengendalian mutu yang penting

-       Merekomendasikan sumber luar untuk pelayanan anestesi (termasuk sedasi moderat dan dalam)

-       Memantau dan menelaah seluruh pelayanan anestesi (termasuk sedasi moderat dan dalam)

Elemen Penilaian PAB.2

TELUSUR

SKOR

DOKUMEN

SASARAN

MATERI

1.    Pelayanan anestesi (termasuk sedasi moderat dan dalam) harus seragam pada seluruh pelayanan di rumah sakit (lihat juga PP.1, EP 1)

  • Pimpinan RS
  • Penangung-jawab/Kepala Pelayanan seluruh pelayanan anestesi
  • Pasien

Implementasi pelayanan anestesi yang seragam di RS

0

5

10

Regulasi pelayanan anestesi

UTW PJ Pelayanan Anestesi

2.    Pelayanan anestesi (termasuk sedasi moderat dan dalam) berada dibawah kepemimpinan satu orang atau lebih yang kompeten (lihat juga TKP 5)

Persyaratan ketua tim anestesi

0

5

10

3.    Tanggung jawab yang meliputi pengembangan, implementasi dan memelihara/menegakkan kebijakan serta prosedur yang ditetapkan dan dilaksanakan

Implementasi dari uraian tugas ketua tim tersebut

0

5

10

4.    Tanggung jawab untuk memelihara/mempertahankan program pengendalian mutu yang ditetapkan dan dilaksanakan

Implementasi dari uraian tugas ketua tim tersebut

0

5

10

5.    Tanggung jawab dalam merekomendasikan sumber luar untuk pelayanan anestesi (termasuk sedasi moderat dan dalam) yang ditetapkan dan dilaksanakan (lihat juga TKP.3.3, EP 1)

Implementasi dari uraian tugas ketua tim tersebut

0

5

10

6.    Tanggung jawab untuk memantau dan menelaah seluruh pelayanan anestesi (termasuk sedasi moderat dan dalam) yang ditetapkan dan dilaksanakan

Implementasi dari uraian tugas ketua tim tersebut

0

5

10

 

PELAYANAN SEDASI

Standar PAB.3

Kebijakan dan prosedur mengarahkan pelayanan pasien untuk sedasi moderat dan dalam

Maksud dan tujuan PAB.3

Sedasi, secara khusus, sedasi yang moderat maupun dalam, menghadapkan risiko kepada pasien, karenanya perlu dilengkapi dengan definisi, kebijakan serta prosedur yang jelas. Derajat sedasi terjadi dalam suatu kontinuum, seorang pasien dapat bergerak dari satu derajat tertentu menuju derajat yang lain, berdasarkan medikasi yang diberikan, rute dan dosisnya. Pertimbangan penting mencakup kemampuan pasien untuk mempertahankan refleks protektif; saluran pernafasan yang paten-independen-berkesinambungan; dan mampu berespon terhadap stimulasi fisik atau instruksi lisan.

Kebijakan dan prosedur sedasi memuat :

a)    penyusunan rencana termasuk identifikasi perbedaan antara populasi dewasa dan anak atau pertimbangan khusus lainnya;

b)    dokumentasi yang diperlukan tim pelayanan untuk dapat bekerja dan berkomunikasi secara efektif;

c)    persyaratan persetujuan (consent) khusus, bila diperlukan;

d)    frekuensi dan jenis monitoring pasien yang diperlukan;

e)    kualifikasi atau ketrampilan khusus para staf yang terlibat dalam proses sedasi; dan

f)     ketersediaan dan penggunaan peralatan spesialistik.

 

Hal lain yang juga penting adalah kualifikasi para dokter, dokter gigi atau semua individu yang kompeten yang bertanggung jawab atas pasien yang menerima sedasi moderat maupun dalam. Setiap petugas harus kompeten dalam :

a)       teknik berbagai modus sedasi;

b)       monitoring yang tepat;

c)       respons terhadap komplikasi;

d)       penggunaan zat-zat reversal; dan

e)       sekurang-kurangnya bantuan hidup dasar.

Petugas yang kompeten yang bertanggung jawab menjalankan suatu asesmen prasedasi terhadap pasien untuk memastikan bahwa perencanaan sedasi dan tingkatannya adalah tepat bagi pasien. Kebijakan rumah sakit menjabarkan ruang lingkup dan isi dari asesmen ini.

Sebagai tambahan bagi para dokter atau dokter gigi, seorang petugas yang kompeten dan bertanggung jawab atas pelaksanaan monitoring berkesinambungan (tidak terinterupsi) atas parameter fisiologis pasien, dan membantu tindakan suportif atau resusitasi. Kualifikasi petugas yang melaksanakan monitoring, dan monitoring peralatan serta suplai nya adalah sama seperti pada pemberian sedasi di unit/tempat yang lain di rumah sakit, misalnya dalam kamar operasi dan dalam klinik rawat jalan gigi. Sehingga terpelihara tingkatan mutu pelayanan yang sama (lihat juga PP.1, EP 3, dan TKP.3.2.1, EP 3).

Elemen Penilaian PAB.3.

TELUSUR

SKOR

DOKUMEN

SASARAN

MATERI

1.    Kebijakan dan prosedur yang tepat, menyebutkan sedikitnya elemen a) sampai dengan f) tersebut diatas, mengarahkan pelayanan pasien untuk menjalani sedasi moderat dan dalam (lihat juga AP.2, EP 3; PP.1, EP 3; dan MPO.4, EP 1).

PPK sedasi

Pasien

Implementasi terhadap regulasi yang memuat sedikitnya a) sampai f)

0

5

10

Regulasi pelayanan anestesi (termasuk sedasi moderat/dalam)

 

Dokumen :

  Keterlibatan PPK dlm penyusunan kebijakan, prosedur

  Daftar PPK sedasi

  Surat kompetensi/kewenangan para PPK terkait

  Asesmen prasedasi dalam rekam medis pasien

  Hasil pemantauan pasien selama sedasi

  Kriteria untuk pemulihan dari sedasi

2.    Petugas yang kompeten yang diidentifikasi di PAB.2 berpartisipasi dalam pengembangan kebijakan dan prosedur.

Implementasi ketua tim anestesi dalam pengembangan regulasi pelayanan anestesi

0

5

10

3.    Harus ada asesmen prasedasi, sesuai kebijakan rumah sakit, untuk mengevaluasi risiko dan ketepatan sedasi bagi pasien (lihat juga AP.1.1, EP 1).

Implementasi asesmen prasedasi sesuai regulasi pelayanan

0

5

10

4.    Petugas yang kompeten, dan yang bertanggung jawab untuk sedasi, harus memenuhi kualifikasi sekurang-kurangnya untuk elemen g) sampai dengan k) tersebut di Maksud dan Tujuan

Persyaratan tim anestesi

0

5

10

5.    Seorang petugas yang kompeten memonitor pasien selama sedasi dan mencatat semua pemantauan.

Implementasi dari tim tersebut dalam memonitor pasien selama sedasi

0

5

10

6.    Dibuat dan didokumentasi kriteria untuk pemulihan dan discharge dari sedasi.

Pendokumentasian kriteria pemulihan dan pemulangan dari sedasi

0

5

10

7.   Sedasi moderat dan dalam diberikan sesuai kebijakan rumah sakit

Implementasi sedasi moderat dan dalam

0

5

10

PELAYANAN ANESTESI

Standar PAB.4

Petugas yang kompeten menyelenggarakan asesmen pra anestesi dan asesmen prainduksi.

Maksud dan tujuan PAB.4

Berhubung anestesi membawa risiko tinggi, maka pemberiannya harus direncanakan dengan seksama. Asesmen pra anestesi pasien merupakan basis untuk perencanaan tersebut dan untuk penggunaan analgesia pasca operatif. Asesmen pra anestesi memberikan informasi yang diperlukan bagi :

-       Pemilihan pelayanan anestesi dan merencanakan anestesi;

-       Pemberian layanan anestesi yang aman dan tepat; dan

-       Penafsiran temuan pada monitoring pasien.

Seorang spesialis anestesi atau petugas lain yang kompeten menjalankan asesmen pra anestesi.

Proses asesmen pra anestesi dijalankan beberapa waktu sebelum rawat inap atau sebelum tindakan pembedahan atau sesaat sebelum operasi, seperti pada pasien emergensi atau obstetri

Asesmen pra induksi terpisah dari asesmen pra anestesi, karena fokusnya pada stabilitas fisiologis dan kesiapan pasien untuk anestesi dan terjadi sesaat sebelum induksi anestesi.

Bila anestesi yang harus diberikan secara darurat, asesmen pra anestesi dan asesmen pra induksi dapat segera dilaksanakan secara berurutan atau secara serempak, tetapi masing-masing didokumentasikan sendiri.

Elemen Penilaian PAB.4

TELUSUR

SKOR

DOKUMEN

SASARAN

MATERI

1.    Asesmen pra anestesi dikerjakan pada setiap pasien (lihat juga AP.1.1, EP 1)

  PPK anestesi

  Pasien

Implementasi asesmen praanestesi

0

5

10

Regulasi pelayanan anestesi

 

Dokumen :

  Daftar PPK anestesi, kompetensi/kewenangan

  Bukti pencatatan asesmen praanestesi dan prainduksi dalam rekam medis

2.    Asesmen pra induksi dilaksanakan untuk re-evaluasi pasien segera sebelum induksi anestesi, sesaat sebelum diberikan induksi anestesi

Implementasi asesmen pra induksi

0

5

10

3.    Kedua asesmen dikerjakan oleh petugas yang kompeten untuk melakukannya

Persyaratan petugas yang boleh melakukan pelayanan tersebut

0

5

10

4.    Kedua asesmen didokumentasikan dalam rekam medis

Pendokumentasian dalam rekam medis

0

5

10

Standar PAB.5

Pelayanan anestesia pada setiap pasien direncanakan dan didokumentasikan di rekam medis pasien

Maksud dan tujuan PAB.5

Pelayanan anestesi direncanakan secara seksama dan didokumentasikan dalam catatan anestesi. Perencanaan mempertimbangkan informasi dari asesmen pasien lain dan mengidentifikasi anestesi yang akan digunakan, termasuk metode pemberiannya, pemberian medikasi dan cairan lain, serta prosedur monitoring dalam mengantisipasi pelayanan pasca anestesi.

Elemen Penilaian PAB.5

TELUSUR

SKOR

DOKUMEN

SASARAN

MATERI

1.    Pelayanan anestesi setiap pasien direncanakan

  PPK anestesi

Implementasi perencanaan pelayanan anestesi di tiap pasien

0

5

10

Regulasi pelayanan anestesi

 

Dokumen :

  Bukti pencatatan perencanaan pelayanan aneatesi dalam rekam medis

2.    Rencana tersebut didokumentasikan

Pendokumentasian pelayanan tersebut

0

5

10

Standar PAB.5.1

Risiko, manfaat dan alternatif didiskusikan dengan pasien dan keluarganya atau mereka yang membuat keputusan bagi pasien.

Maksud dan tujuan dari PAB.5.1

Proses perencanaan anestesi mencakup mengedukasi pasien, keluarganya, atau pembuat keputusan atas risiko, manfaat dan alternatif yang berhubungan dengan perencanaan anestesia dan analgesia pasca operatif. Diskusi ini terjadi sebagai bagian dari proses untuk memperoleh persetujuan anestesi (termasuk sedasi moderat dan dalam) sebagaimana disyaratkan dalam HPK.6.4, EP 2. Seorang anestesiolog atau petugas yang kompeten memberikan edukasi ini.

Elemen Penilaian PAB.5.1

TELUSUR

SKOR

DOKUMEN

SASARAN

MATERI

1.    Pasien, keluarga dan pengambil keputusan diberi pendidikan tentang risiko, manfaat dan alternatif anestesi (lihat juga HPK.6.4, EP 2).

  Ketua dan anggota tim anestesi

  Pasien dan atau keluarga

Implementasi pemberian edukasi informed consent tentang risiko, manfaat dan alternatif anestesi

0

5

10

Regulasi persetujuan tindakan kedokteran

 

Dokumen :

  Materi edukasi

  Formulir persetujuan/ penolakan tindakan

2.    Antestesiolog atau petugas lain yang kompeten memberikan edukasi tersebut

Persyaratan pemberi edukasi/ informed consent tersebut

0

5

10

Standar PAB.5.2

Anestesi yang digunakan dan tehnik anestesi ditulis di rekam medis pasien

Maksud dan tujuan PAB.5.2

Anestesi yang digunakan dan teknik anestesi ditulis di rekam medis anestesi pasien

Elemen Penilaian PAB.5.2

TELUSUR

SKOR

DOKUMEN

SASARAN

MATERI

1.    Anestesi yang digunakan dituliskan dalam rekam medis pasien (lihat juga PP.2.1, EP 7, dan MKI.19.1, EP 4)

  • PPK anestesi
  • Pasien

Implementasi pencatatan obat anestesi yang digunakan dalam rekam medis

0

5

10

Dokumen :

  • Rekam medis pasien

2.    Teknik anestesi yang digunakan dituliskan dalam rekam medis anestesi pasien

Implementasi pencatatan teknik anestesi yang digunakan dalam rekam medis

0

5

10

3.    Dokter spesialis Anestesi dan atau perawat anestesi dan asisten anestesi di catat di rekam medis anestesi pasien.

Implementasi pencatatan tim anestesi yang terlibat dalam rekam medis

0

5

10

Standar PAB.5.3

Selama pemberian anestesi, status fisiologis setiap pasien terus menerus dimonitor dan dituliskan dalam rekam medis pasien

Maksud dan tujuan PAB.5.3

Monitoring fisiologis memberikan informasi yang dapat diandalkan tentang status pasien selama pemberian anestesi (umum, spinal dan regional) dan periode pemulihan. Metode monitoring tergantung pada status pra anestesi pasien, anestesi yang dipilih dan kompleksitas dari pembedahan atau prosedur lain yang dikerjakan selama anestesi. Namun demikian, dalam semua kasus, proses monitoring dilakukan terus menerus dan hasilnya dituliskan ke dalam rekam medis pasien.

Elemen Penilaian PAB.5.3

TELUSUR

SKOR

DOKUMEN

SASARAN

MATERI

1.    Kebijakan dan prosedur mengatur frekuensi minimum dan tipe monitoring selama tindakan anestesi dan polanya seragam untuk pasien yang serupa yang menerima tindakan anestesi yang sama waktu pemberian anestesi (lihat juga AP.2, EP 1 3)

  PPK anestesi

Implementasi regulasi pemantauan selama pemberian anestesi

0

5

10

Regulasi pemberian anestesi

Dokumen :

  • Bukti hasil pemantauan status fisiologis pasien selama pemberian anestesi dalam rekam medis

2.    Status fisiologis dimonitor secara terus menerus selama pemberian anestesi, sesuai kebijakan dan prosedur (lihat juga AP.2, EP 1 dan 2)

Implementasi pemantauan status fisiologis pasien sekama pemberian anestesi

0

5

10

3.    Hasil monitoring dituliskan ke dalam rekam medis anestesi pasien (lihat juga MKI.19.1, EP 4)

Pendokumentasian hasil pemantauan dalam rekam medis

0

5

10

Standar PAB.6

Setiap status post anestesi pasien dimonitor dan didokumentasikan dan pasien dipindahkan dari ruang pemulihan oleh petugas yang kompeten atau dengan menggunakan kriteria baku.

Maksud dan tujuan PAB.6

Monitoring selama anestesi adalah dasar dari monitoring selama periode pemulihan pasca anestesi. Pengumpulan data secara sistematik dan analisis data yang berlangsung terhadap kondisi pasien yang dalam pemulihan, mendukung keputusan untuk memindahkan pasien ke setting pelayanan lain dengan pelayanan yang kurang intensif. Pencatatan data monitoring merupakan dokumentasi untuk mendukung keputusan untuk memindahkan pasien.

Memindahkan dari ruang pulih pasca anestesi atau menghentikan monitoring pemulihan, memakai salah satu cara alternatif berikut ini :

a)    Pasien dipindahkan (atau menghentikan monitoring pemulihan) oleh seorang anestesiolog yang kompeten penuh atau petugas lain yang diberi otorisasi oleh petugas yang bertanggung jawab untuk mengelola pelayanan anestesi

b)    Pasien dipindahkan (atau menghentikan monitoring pemulihan) oleh seorang perawat atau seorang petugas yang setaraf dan kompetensinya sesuai dengan kriteria pasca anestesi yang dikembangkan oleh pimpinan rumah sakit dan bukti pemenuhan kriteria didokumentasikan dalam rekam medis pasien

c)    Pasien dipindahkan ke suatu unit yang telah ditetapkan sebagai tempat yang mampu memberikan pelayanan pasca anestesi atau pasca sedasi terhadap pasien tertentu, antara lain seperti pada unit pelayanan intensif kardiovaskuler atau unit pelayanan intensif bedah saraf.

Waktu tiba dan pemindahan dari ruang pulih (atau menghentikan monitoring pemulihan) dicatat.

Elemen Penilaian PAB.6

TELUSUR

SKOR

DOKUMEN

SASARAN

MATERI

1.    Pasien dimonitor sesuai kebijakan selama periode pemulihan pasca anestesi (lihat juga AP.2, EP 3)

  PPK anestesi, pelayanan ruang pulih

  Pasien

Implementasi pemantauan selama pemulihan

0

5

10

Regulasi monitoring pasca anestesi

Dokumen :

  Daftar PPK pelayanan ruang pulih

  Hasil pemantauan selama di ruang pemulihan dalam rekam medis

  Kriteria pemindahan pasien dari unit pasca anestesi/ruang pulih

2.    Temuan selama monitoring dimasukkan ke dalam rekam medis pasien, baik dicatat atau secara elektronik (lihat juga MKI.19.1, EP 4)

Pendokumentasian hasil temuan selama dalam pemantauan

0

5

10

3.    Pasien dipindahkan dari unit pasca anestesi (atau monitoring pemulihan dihentikan) sesuai dengan alternatif yang diuraikan dalam a) s/d c) Maksud dan Tujuan

Implementasi pemindahan pasien dari unit pasca anestesi sesuai alternatif yang diuraikan dalam a) samapai c)

0

5

10

4.    Waktu dimulai dan diakhirinya pemulihan dicatat dalam rekam medis pasien

Pendokumentasian waktu dimulai dan diakhirinya pemulihan

0

5

10

PELAYANAN BEDAH

Standar PAB.7

Setiap asuhan bedah pasien direncanakan dan didokumentasikan berdasarkan hasil asesmen.

Maksud dan tujuan PAB.7

Karena pembedahan membawa risiko dengan tingkatan yang tinggi, maka penggunaannya haruslah direncanakan secara seksama. Asesmen pasien adalah dasar untuk memilih prosedur pembedahan yang tepat. Asesmen memberikan informasi penting terhadap

-     Pemilihan prosedur yang tepat dan waktu yang optimal;

-     Melaksanakan prosedur secara aman; dan

-     Menginterpretasi temuan dalam monitoring pasien

Pemilihan prosedur tergantung pada riwayat pasien, status fisik, dan data diagnostik termasuk risiko dan manfaat prosedur bagi pasien. Pemilihan prosedur mempertimbangkan informasi dari asesmen saat masuk rawat inap, tes diagnostik, dan sumber lain yang tersedia. Proses asesmen dijalankan dalam kerangka waktu dipersingkat bilamana pasien secara darurat membutuhkan pembedahan.

Asuhan bedah yang direncanakan bagi pasien didokumentasikan dalam status pasien, termasuk diagnosis pra operatif. Nama dari prosedur bedah saja tidak bisa untuk menegakkan suatu diagnosis.

Elemen Penilaian PAB.7

TELUSUR

SKOR

DOKUMEN

SASARAN

MATERI

1.    Sebelum pelaksanaan tindakan, dokter yang bertanggungjawab mendokumentasikan informasi asesmen yang digunakan untuk mengembangkan dan mendukung tindakan invasif yang direncanakan (lihat juga AP.1.5.1, EP 1; AP.5.3, EP 3 dan AP.6.4, EP 3)

  Dokter pelayanan bedah / DPJP Bedah

  Pasien

Implementasi dari pendokumentasian informasi asesmen pasien

0

5

10

Dokumen :

  Kewenangan klinis

  Asesmen pra operasi dalam rekam medis

2.    Setiap asuhan bedah pasien direncanakan berdasarkan informasi asesmen

Implementasi rencana asuhan bedah sesuai informasi asesmen

0

5

10

3.    Sebelum tindakan, diagnosis pra operatif dan rencana tindakan didokumentasikan dalam rekam medis pasien oleh dokter yang bertanggungjawab (lihat juga AP.1.5.1, EP 1, dan MKI.19.1, EP 3)

Pendokumentasian diagnosis pra operatif dan rencana tindakan dalam rekam medis

0

5

10

Standar PAB.7.1

Risiko, manfaat, dan alternatif didiskusikan dengan pasien dan keluarganya atau orang yang berwenang membuat keputusan bagi pasien.

Maksud dan tujuan PAB.7.1

Pasien dan keluarganya atau para pembuat keputusan menerima informasi yang adekuat untuk berpartisipasi dalam keputusan pemberian asuhan dan memberikan persetujuan (informed consent) yang diperlukan dalam HPK.6.4. Informasi termasuk :

-     Risiko dari prosedur yang direncanakan;

-     Manfaat prosedur yang direncanakan;

-     Komplikasi yang potensial terjadi; dan

-     Alternatif tindakan bedah dan nonbedah yang tersedia untuk mengobati pasien.

Sebagai tambahan, bila darah atau produk darah mungkin dibutuhkan, informasi tentang risiko dan alternatif didiskusikan. Dokter bedah yang bersangkutan atau petugas yang kompeten lain memberikan informasi ini.

Elemen Penilaian PAB.7.1

TELUSUR

SKOR

DOKUMEN

SASARAN

MATERI

1.    Pasien, keluarga dan pembuat keputusan diedukasi tentang risiko, manfaat, komplikasi yang potensial serta alternatif yang berhubungan dengan prosedur bedah yang direncanakan (lihat juga HPK.6.4, EP 1).

  • DPJP Bedah
  • Pasien dan keluarga

Implementasi pemberian informed consent pada pasien, keluarga dan pembuat keputusan tentang risiko, manfaat, komplikasi dan alternatif terkait prosedur bedah yang direncanakan

0

5

10

Acuan :

  Manual Konsil Kedokteran Indonesia tentang persetujuan tindakan kedokteran

2.    Edukasi mencakup kebutuhan untuk, risiko dan manfaat dari, maupun alternatif terhadap darah dan produk darah yang digunakan

Implementasi pemberian informed consent juga mencakup kebutuhan, risiko, manfaat maupun alternatif darah dan produk darah yang digunakan

0

5

10

Regulasi tentang komunikasi yang efektif dalam pemberian edukasi dan informasi

 

Dokumen :

  • Formulir informed consent
  • Formulir persetujuan/ penolakan tindakan kedokteran

3.    Dokter bedah atau petugas lain yang kompeten memberikan edukasi (lihat juga HPK.6.1, EP 2)

Implementasi pemberian informed consent oleh dokter bedah

0

5

10

Standar PAB.7.2

Ada laporan operasi atau catatan operasi singkat dalam rekam medis pasien untuk keperluan pelayanan berkesinambungan.

Maksud dan tujuan PAB.7.2

Pelayanan pasca bedah tergantung pada kejadian dan temuan dalam tindakan bedah. Jadi, status pasien termasuk diagnosis pasca bedah, deskripsi dari prosedur bedah dan temuan-temuan (termasuk spesimen bedah yang dikirim untuk pemeriksaan) dan nama ahli bedah dan asisten bedah. Guna mendukung suatu kontinuum dari pelayanan suportif pasca bedah, catatan laporan operasi tersedia sebelum pasien meninggalkan ruang pulih pasca anestesi (lihat juga PP.2.1, EP 7, dan AP.5.3, EP 3).

Sebelum pasien meninggalkan lokasi pemulihan pasca anestesi, suatu catatan singkat tindakan bedah bisa digunakan sebagai pengganti laporan tertulis tindakan bedah. Laporan tertulis tindakan bedah atau catatan singkat operasi tersebut minimum memuat :

a)    diagnosa pasca operasi;

b)    nama dokter bedah dan asisten-asisten;

c)    nama prosedur;

d)    spesimen bedah untuk pemeriksaan;

e)    catatan spesifik komplikasi atau tidak adanya komplikasi selama operasi, termasuk jumlah kehilangan darah; dan

f)     tanggal, waktu, dan tandatangan dokter yang bertanggung jawab.

Elemen Penilaian PAB.7.2

TELUSUR

SKOR

DOKUMEN

SASARAN

MATERI

1.    Laporan tertulis operasi atau ringkasan catatan operasi termasuk sekurang-kurangnya ad a) s/d f) tersebut dari Maksud dan Tujuan.

  • Ahli bedah/ DPJP
  • Perawat bedah

Implementasi pencatatan laporan operasi yang sekurang-kurangnya memuat a) sampai f)

0

5

10

Prosedur bedah dan tentang laporannya

Dokumen :

  • Laporan operasi dalam rekam medis pasien

2.    Laporan tertulis operasi, atau ringkasan catatan operasi dalam rekam medis pasien, tersedia sebelum pasien meninggalkan lokasi pemulihan pasca anestesi (lihat juga PP.2.3, Maksud dan Tujuan)

Implementasi pencatatan laporan operasi tersebut dalam rekam medis pasien tersedia sebelum pasien meninggalkan ruang pemulihan

0

5

10

Standar PAB.7.3

Status fisiologis setiap pasien dimonitor terus menerus selama dan segera setelah pembedahan dan dituliskan dalam status pasien

Catatan : Hal ini akan dinilai bila tindakannya dilakukan dengan anestesi lokal tanpa anestesi umum atau regional maupun sedasi.

Maksud dan tujuan PAB.7.3

Status fisiologis pasien dimonitor selama pembedahan dan segera sesudahnya. Monitoring yang tepat mengenai kondisi pasien dan prosedur yang dijalankan.

Hasil monitoring memicu keputusan kunci intraoperatif termasuk keputusan pasca bedah seperti kembali ke pembedahan, pemindahan ke tingkat asuhan yang lain, atau dipulangkan. Informasi monitoring menjadi pedoman pelayanan medis dan keperawatan serta mengidentifikasi kebutuhan pelayanan diagnostik maupun pelayanan lain. Temuan monitoring dimasukkan ke dalam status pasien. Persyaratan ini berhubungan dengan persyaratan yang sama bagi monitoring fisiologis selama anestesi (lihat juga PAB.5.3).

Elemen Penilaian PAB.7.3

TELUSUR

SKOR

DOKUMEN

SASARAN

MATERI

1.    Status fisiologis pasien dimonitor secara terus menerus selama pembedahan (lihat juga AP.2, EP 1)

  • Ahli bedah/ DPJP
  • Perawat bedah

Implementasi pemantauan status fisiologis pasien selama pembedahan

0

5

10

Prosedur monitoring pasca bedah

Dokumen :

  • Bukti pemantauan status fisiologis pasien selama pembedahan dalam rekam medis

2.    Temuan dimasukkan ke dalam status pasien (lihat juga AP.2, EP 1, dan MKI.19.1, EP 4)

Pendokumentasian hasil pemantauan dalam rekam medis pasien

0

5

10

Standar PAB.7.4

Asuhan pasien setelah pembedahan direncanakan dan didokumentasikan

Maksud dan tujuan PAB.7.4

Asuhan medis dan perawatan pasca bedah setiap pasien perlu dibedakan. Oleh karenanya, penting untuk merencanakan asuhan tersebut, termasuk tingkatan asuhan, serta tempat (setting) asuhan, pemantauan tindak lanjut atau pengobatan dan kebutuhan obat. Perencanaan asuhan pasca bedah dapat dimulai sebelum pembedahan berdasarkan asesmen kondisi dan kebutuhan pasien. Asuhan yang direncanakan didokumentasikan dalam status pasien untuk memastikan kelanjutan pelayanan selama periode pemulihan atau rehabilitasi.

Elemen Penilaian PAB.7.4

TELUSUR

SKOR

DOKUMEN

SASARAN

MATERI

1.    Setiap asuhan pasca bedah yang segera pada pasien direncanakan dan termasuk asuhan medis, keperawatan, dan yang lainnya sesuai kebutuhan pasien.

  • Ahli bedah/ DPJP terkait
  • Perawat terkait

Implementasi asuhan pasca bedah termasuk asuhan medis, keperawatan dan yang lainnya sesuai kebutuhan pasien.

0

5

10

Dokumen :

  • Bukti rencana asuhan pasca bedah dalam rekam medis

2.    Rencana pasca bedah didokumentasikan di dalam rekam medis pasien oleh ahli bedah yang bertanggung jawab / DPJP atau diverifikasi oleh DPJP yang bersangkutan dengan ikut menanda tangani (co-signature) pada rencana yang didokumentasikan oleh seorang yang mewakili DPJP.

Pendokumentasian rencana asuhan pasca bedah oleh ahli bedah/ DPJP atau seseorang yang mewakili DPJP

0

5

10

3.    Rencana asuhan keperawatan pasca bedah didokumentasikan pada rekam medis pasien.

Pendokumentasian rencana keperawatan pasca bedah

0

5

10

4.    Bila ada kebutuhan pasien itu, maka rencana asuhan pasca bedah oleh pihak lain didokumentasikan dalam rekam medis pasien.

Implementasi pendokumentasian dalam rekam medis pasien tersebut.

0

5

10

5.    Rencana pelayanan didokumentasikan pada rekam medis pasien dalam 24 jam tindakan bedah.

Pendokumentasian dalam rekam medis pasien dalam 24 jam tindakan bedah

0

5

10

 

6.    Rencana pelayanan dilaksanakan.

Implementasi rencana asuhan tersebut

0

5

10